Selasa, 28 Oktober 2014

Komunitas Batik Kawasan Mandala Borobudur






Oleh Guntur Bisowarno S.SI.,Apt.
PemBatik_Kitab Herbal Kehidupan
PemBatik_Kitab Jamu Kehidupan
Tinggal di Purwosari Pasuruan Jatim
085235807140

Sejak tahun 2011, Candi Borobudur mengharuskan pengunjung menggunakan sehelai kain batik printing yang dililitkan di pinggang seperti memakai sarung. Kegunaan dari kain ini adalah sebagai bentuk penghormatan atas candi yang merupakan bangunan sakral tempat peribadatan. Pesan tersebut sangat baik, agar pengunjung tak menganggap candi hanya sebagai monumen mati.

Inilah bentuk pendidikan pusaka budaya yang sangat menyentuh. Selain penghormatan, pemilihan batik adalah pendidikan lain yang penting untuk mengenalkan batik itu sendiri. Batik tulis dan cap menjadi yang diakui oleh UNESCO sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Wisatawan yang masuk ke dalam Candi Borobudur tidak mengenakan batik tulis maupun cap, melainkan printing. Sayangnya kain ini tidak dibuat di Borobudur. Padahal Desa Borobudur memiliki kelompok batik yang tersebar di sekitar candi.

Aktivasi dan Up Grading Jack Priyana Ketua Jaringan Kerja Mandala Borobudur

Jack Priyana, warga lokal, telah menggiatkan aktivitas warga lokal untuk membatik di Desa Borobudur. Sejak pertengahan 2012, kelompok ini berhasil mengajukan rancangannya untuk digunakan sebagai pengganti sarung printing yang digunakan kini.

Bahan yang digunakan adalah santung, kain lembut yang tidak panas. Proses produksinya menggunakan metode cap dengan bahan pewarna sintetis. Motif yang dieksplorasi adalah pahatan relief yang terdapat di Candi Borobudur. Motif ini mereka namai Mandala Borobudur.

Hingga akhir Maret lalu, PT TWC telah memesan 1000 lembar batik sesuai kebutuhan. Namun, jumlah ini akan bertambah nantinya. Pada pertengahan 2013 ini, pengunjung akan dapat mengenakan hasil kreasi warga Desa Borobudur tersebut.

S
Jack Priyana, warga lokal, telah menggiatkan aktivitas warga lokal untuk membatik di Desa Borobudur. Sejak pertengahan 2012, kelompok ini berhasil mengajukan rancangannya untuk digunakan sebagai pengganti sarung printing yang digunakan kini.

Bahan yang digunakan adalah santung, kain lembut yang tidak panas. Proses produksinya menggunakan metode cap dengan bahan pewarna sintetis. Motif yang dieksplorasi adalah pahatan relief yang terdapat di Candi Borobudur. Motif ini mereka namai Mandala Borobudur.

Hingga akhir Maret lalu, PT TWC telah memesan 1000 lembar batik sesuai kebutuhan. Namun, jumlah ini akan bertambah nantinya. Pada pertengahan 2013 ini, pengunjung akan dapat mengenakan hasil kreasi warga Desa Borobudur tersebut.

Saat ini wisatawan hanya dapat dapat melihat proses pembuatannya. Proses ini dipusatkan di Rumah Seni Atap Langit yang terletak di Jalan Balaputra Dewa Nomor 55, Desa Borobudur.

Penggunaan produk lokal akan mendukung kemajuan kelompok warga. Semoga ini menjadi media promosi, agar wisatawan Borobudur tak hanya datang ke candi, namun juga mampir ke dusun-dusun untuk mempelajari budaya desa.

Selain membangkitkan ekonomi warga, upaya ini juga turut memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang makna batik yang sesungguhnya. Inilah akhir dari kesalahan pengelola Borobudur dalam memberikan pendidikan pusaka bagi publik. Semoga saja upaya ini segera diikuti oleh candi-candi lainnya.aat ini wisatawan hanya dapat dapat melihat proses pembuatannya. Proses ini dipusatkan di Rumah Seni Atap Langit yang terletak di Jalan Balaputra Dewa Nomor 55, Desa Borobudur.

Penggunaan produk lokal akan mendukung kemajuan kelompok warga. Semoga ini menjadi media promosi, agar wisatawan Borobudur tak hanya datang ke candi, namun juga mampir ke dusun-dusun untuk mempelajari budaya desa.

Selain membangkitkan ekonomi warga, upaya ini juga turut memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang makna batik yang sesungguhnya. Inilah akhir dari kesalahan pengelola Borobudur dalam memberikan pendidikan pusaka bagi publik. Semoga s
Jack Priyana, warga lokal, telah menggiatkan aktivitas warga lokal untuk membatik di Desa Borobudur. Sejak pertengahan 2012, kelompok ini berhasil mengajukan rancangannya untuk digunakan sebagai pengganti sarung printing yang digunakan kini.

Bahan yang digunakan adalah santun, kain lembut yang tidak panas. Proses produksinya menggunakan metode cap dengan bahan pewarna sintetis. Motif yang dieksplorasi adalah pahatan relief yang terdapat di Candi Borobudur. Motif ini mereka namai Mandala Borobudur.

Hingga akhir Maret lalu, PT TWC telah memesan 1000 lembar batik sesuai kebutuhan. Namun, jumlah ini akan bertambah nantinya. Pada pertengahan 2013 ini, pengunjung akan dapat mengenakan hasil kreasi warga Desa Borobudur tersebut.

Saat ini wisatawan hanya dapat dapat melihat proses pembuatannya. Proses ini dipusatkan di Rumah Seni Atap Langit yang terletak di Jalan Balaputra Dewa Nomor 55, Desa Borobudur.

Penggunaan produk lokal akan mendukung kemajuan kelompok warga. Semoga ini menjadi media promosi, agar wisatawan Borobudur tak hanya datang ke candi, namun juga mampir ke dusun-dusun untuk mempelajari budaya desa.

Selain membangkitkan ekonomi warga, upaya ini juga turut memberikan pendidikan yang benar kepada masyarakat Indonesia dan dunia tentang makna batik yang sesungguhnya. Inilah akhir dari kesalahan pengelola Borobudur dalam memberikan pendidikan pusaka bagi publik. Semoga saja upaya ini segera diikuti oleh candi-candi lainnya.aja upaya ini segera diikuti oleh candi-candi lainnya. 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar